Rabu, 03 Februari 2016

Juara Menahan Rindu



Aku percaya, setiap perlombaan selalu ada lawan, termasuk perlombaan yang kita ikuti saat ini. Perlombaan yang pesertanya hanya kita berdua, aku dan kamu. Lawan? Lawanku bukan kamu, juga lawanmu bukan aku, lawan kita adalah ego masing-masing.

Kamu tahu perlombaan apa yang selalu kita ikuti setiap harinya? Iya, lomba menahan rindu.

Siapa yang paling bisa menahannya, dialah pemenangnya. Dan kamu selalu menjadi juara dalam hal itu. Aku? Aku selalu kalah.

Kita tidak pernah bosan mengikuti perlombaan ini, bisa saja, mungkin kita sudah terjebak di dalam lingkaran yang disebut dengan “Lomba Menahan Rindu”, mau tidak mau kita harus mengikutinya, suka tidak suka kita harus menjalaninya.

Aku belajar, dari seringnya kita berada di perlombaan ini, mengalah adalah pilihan yang tepat, karena ku tahu, jika aku menang, rindu ini akan menguap, dan bisa saja kita lupa akan perlombaan ini, tidak ada yang dirindu dan tidak ada yang merindu. Itu sangat pedih, lebih baik aku yang kalah.

Aku sangat merindukanmu saat ini, kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin, kemarin, saat sebelum perlombaan ini dimulai. Bagaimana dengan sang juara? Iya kamu. Setiap harinya, setiap aku kalah, setiap aku rindu, aku selalu menanamkan bahwa kamu pun sama, merindukanku.

Iya, disaat aku merindukanmu, selalu aku tanamkan, disaat itu juga kamu (pasti) merindukanku. Karena hal yang paling aku takuti dalam perlombaan ini yaitu, kamu tahu? Menerima kenyataan bahwa kamu tidak sedang mengikuti perlombaan ini. Meskipun aku tahu, kamu sudah lama tidak mengikutinya.

Menyedihkan memang, bahkan lebih menyedihkan dari, yang dirindu sudah tidak lagi merindu. Inilah kenyataan yang harus dijalani kedepan, berlomba sendirian.

Bodohnya, aku terus mengikutinya. Yah aku tahu, sudah tidak mungkin lagi ada pemenang dalam perlombaan ini. Berharap kamu ikut kembali adalah alasanku mengapa masih bertahan.

Aku belum bisa membiarkan rindu ini menguap begitu liar, menguap tak tertahan, menguap karena orang yang dirindu sudah tidak lagi merindu.

Entahlah, aku tidak tahu cara mengakhiri ini semua, karena yang ku tahu akhir dari sebuah perlombaan selalu ada pemenang, meskipun selalu kamu yang menang. Menyerah di tengah jalan? Kamu tau itu, sama sekali bukan kita.

Kelak ..

Jika nanti perasaan ini tidak lagi kuat menahan, akan ku biarkan rindu ini menguap secara perlahan, akan ku biarkan kamu menghirupnya, merasakannya, mengenalinya kembali bahwa rasa rindu ini masih dari orang yang sama, untuk orang yang sama, untuk kamu sang juara.

Hei masih maukah kamu menjadi juara?

Aku rindu kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar