Senin, 02 Juni 2014

Terlalu Peka, Lebih Terlihat Bodoh

Peka itu sama seperti komunikasi, bukan satu arah tapi dua arah, kadang terarah malah lebih sering salah mengarahkan. Iya, kalau pekanya sendirian tanpa ada pihak yang menyadari kepekaan yang kami tunjukkan. Ini bukan soal menyerah atau tidak, tapi kami juga butuh perhatian anda untuk menyadari kepekaan yang kami tunjukkan agar tidak terlihat bodoh di depan orang-orang, terlebih terlihat bodoh di depan anda.

Kami mungkin sudah terbiasa melakukan ini, sampai anda tersadar bahwa peka tidak selamanya untuk dinikmati melainkan dimengerti. Iya dimengerti. Anda mungkin berpikir bahwa kami kesepian, namun kami yakin bahwa anda akan mengisi kesepiannya kami. Risih memang, tapi bagi kami itu sebagai bentuk kasih yang kami punya untuk anda, yah peka.

Berbagai cara sudah kami lakukan, sekalipun kami terlihat bodoh di depan anda. Pinta kami hanya satu, berhentilah untuk berpura-pura bodoh di depan kami. Kami tahu, andapun tahu, tapi kenapa anda tidak memberi tahu kami untuk berhenti menyudahi peka yang berlebihan, yah berlebihan, karena peka yang sesederhana itu saja anda tidak mengerti.

Kami bisa saja pergi, membawa peka yang tiap hari kami beri. Karena kami tahu, kami hidup bukan untuk orang-orang yang tidak bisa menghargai tapi kami hidup untuk orang-orang yang mengerti kami. Mungkin orang itu bukan anda, karena peka bisa saja salah arah. Yah kami bodoh, dan kami tidak pernah menyesali apa yang kami lalukan, peka ke orang yang salah. Kami hanya belajar, bagaimana mendekatkan diri ke orang yang kami anggap jodoh, meskipun kami tahu, cara kami terlalu bodoh.

Sama sekali kami tidak pernah mengharapkan balasan dari anda, kami hanya ingin dihargai. Tidak, kami sama sekali tidak haus penghargan, kami hanya tidak ingin menghabiskan waktu untuk peka sendirian apalagi salah mengarahkan.

Cinta itu perlu pengorbanan, tapi percuma jika anda menganggap pengorbanan kami sebagai bentuk cari perhatian. Cinta itu memberi dan menerima, tapi percuma jika hanya kami yang memberi dan hanya anda yang menerima sedangkan kami tidak mendapatkan apa-apa dari anda dan anda tidak memberikan apa-apa untuk kami. Kami mungkin terlihat egois, bukan, ini bukan egois tapi kepekaan kami sudah diambang kritis.

Sebaiknya kami pergi, mencari kembali orang-orang yang siap menerima kepekaan dari kami untuk dimengerti. Kami sadar, mungkin anda tidak butuh peka dari kami tapi dari orang lain yang anda mengerti. Karena peka sama seperti komunikasi, bukan satu arah tapi dua arah, kadang terarah malah lebih sering salah mengarahkan.


Kami yang selalu salah mengarahkan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar