Rabu, 23 Mei 2012

Semua Manusia itu Unik


Kadang kita merasa bahwa kehidupan itu tidak adil dan tidak rata karena tidak seimbang dalam membagikan sebuah kelebihan. Mungkin kita sering berpikiran seperti itu, termasuk saya. Pikiran itu ada karena kita belum menyadari akan kelebihan diri kita sendiri. Lantas, bagaimana menyingkirkan pikiran tersebut? Atau merubahnya menjadi bahwa hidup ini adil, bahkan rata karena sudah seimbang dengan kelebihan yang diterima?

Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan yang berbeda-beda. #fact: setiap sidik jari manusia itu berbeda. Unik, karena tidak ada yang menyamainya. Langka, karena setelah manusia tidak adalagi mahluk Tuhan yang lebih sempurna darinya.  Manusia ada, karena kelebihannya. Manusia survive, karena akalnya. Manusia hidup, karena tahu kelebihan yang dia punya berkat akalnya.
Sering kali, kita menganggap bahwa kitalah yang paling sempurna di antara yang lain atau sebaliknya, sehingga kita cenderung sombong dan merasa paling benar bahkan minder jika kita menganggap kebalikan dari sempurna. Menurut Carl G. Jung, setiap manusia memang memiliki sisi gelap, namun kalau kita tidak mau menerima keberadaan sisi gelap tersebut, maka sifat-sifat gelap tersebut akan menjadi kekuatan, yang suatu saat akan keluar dan terlihat oleh orang lain.
Terkadang karena kita belum puas dengan kelebihan kita sendiri, sering kali kita mencoba kelebihan yang belum tentu sesuai dengan kita, malah bisa saja kita melupakan kelebihan yang sebelumnya kita miliki. Yah karena manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliknya. Ini yang membuat manusia tidak konsisten terhadap perbuatannya.
Semua manusia itu unik, baik fisik maupun psikologisnya, baik kelebihannya juga karena kekurangannya, kalaupun kita belum tahu kelebihan maupun kekurangan dari diri kita, itu karena kita belum megoptimalkan apa yang sudah kita miliki. Ketika kita gagal dalam mengoptimalkan kelebihan tesebut bukan karena kita tidak bisa tapi karena kita butuh usaha yang lebih dari biasanya.
Mungkin dalam perjuangan itu kita bakalan gagal, tapi kegagalan dari sebuah perjuangan yang paling hebat adalah kemenangan yang paling berarti. (Radtya Dika-Kambing Jantan)
Manusia hidup, karena tahu kelebihan yang dia punya berkat akalnya. Meskipun itu semua butuh proses tapi karena proses tersebut kita akan menemukan sisi lain dari kelebihan yang membuat kita tetap hidup dan akan menjawab keragu-raguan kita dalam mengartikan sebuah kehidupan yang memang benar-benar adil dan rata karena seimbang dengan kelebihannya masing-masing.

Setiap orang ingin menjadi seperti anda, jangan sampai anda ingin menjadi seperti orang lain.


Minggu, 13 Mei 2012

Memanusiakan Manusia (kembali)

Kemarin (12/5), setelah melihat program dokumenter reality di transTV yaitu Pengabdian, yang mengangkat sebuah realitas kehidupan tentang orang-orang yang mengalami ganguan jiwa atau yang biasa kita sebut (maaf) orang gila, ternyata masih ada orang-orang yang peduli terhadap mereka (orang gila.red). Disaat sebagian dari kita masih menganggap keberadaan mereka hanya mengganggu pemandangan, objek pelengkap di setiap sudut tempat sampah, sudut jalanan, sudut ruko-ruko, sudut fasilitas umum, bahkan sudut warung- warung makan yang tidak pernah memperhatikan keberadaan mereka, malah tak jarang dari kita mengusir mereka layaknya binatang.

Jika saja dia masih punya jiwa, mungkin mereka akan menangis se-jadi-jadinya, menangisi 'mereka' yang tidak pernah sedikitpun untuk memanusiakannya.

Tapi, tidak dengan Dadang Heriyadi (42), yang memutuskan untuk berhenti bekerja hanya untuk mengurusi mereka sebagai bentuk pengabdiannya untuk kemanusiaan. Berawal dari makan siang, Dadang yang waktu itu melihat seorang penderita gangguan jiwa yang sedang makan dengan makanan yang sudah ada belatung nya, hati Dadang merasa teriris melihat kejadian itu dan langsung memberikan satu bungkus makanan kepada orang tersebut.

Berawal dari kejadian tersebut, Dadang akhirnya mendirikan yayasan yang diberi nama Keris Nangtung. Sebuah yayasan sosial yang akan memanusiakan manusia (kembali) tanpa jiwa . Bermodal roda dua, Dadang dan dua orang temannya berburu orang-orang tanpa jiwa di jalanan, di pasar, kadang Dadang sering menemukannya di tempat sampah yang sedang mengais-ngais mencari makanan.

Di balik bengunan berdinding bambu, berpintu kayu, ber-alaskan hanya tikar, Dadang dan teman-temannya menyimpan sejuta asa dan harapan demi kesembuhan mereka. Dengan memberinya makan, olahraga, musik bahkan mencoba mengenalkan mereka kembali kepada Tuhan yang menciptakannya dan dengan kepedulian yang lebih, kasih sayang tanpa pamrih, Dadang yakin mereka yang menderita gangguan jiwa lambat laun akan sembuh seperti sedia kala. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Andai saja di Indonesia ini, masih banyak Dadang-Dadang yang lain, mungkin kita tidak akan pernah menemukan mereka (lagi) di jalanan, pasar, depan ruko-ruko dan di tempat-tempat dimana mereka merasa nyaman untuk ditinggali. Semoga dengan melihat acara tersebut atau setelah membaca postingan ini, saya dan anda selalu tergugah untuk memanusiakan mereka kembali yang sudah saatnya untuk dimanusiakan tanpa menyisihkan mereka dari kehidupan ini. Semoga