Minggu, 04 Maret 2012

Marjinal Bukan Pilihan

Kelompok yang terpinggirkan atau yang dikenal dengan sebutan marjinal, secara tidak sadar kita sendirilah yang membuat mereka ada (marjinal). Marjinal ada karena kita sendiri yang me-marjinal-kannya tanpa sedikitpun rasa tanggung jawab untuk membantu mereka keluar dari garis marjinalisasi karena saya tau marjinal itu bukan suatu pilihan namun kedaan yang membuat mereka jadi marjinal.
"Orang miskin, terpinggirkan, dan mereka yang tidak dihitung, mereka ada karena kita menciptakan, terutama oleh suprastruktur, dan kemudian oleh saya, oleh Anda, oleh kita semua." Mother Teresa
Marjinal tak semerta-merta mereka yang terpinggirkan, mereka yang miskin, mereka yang broken home, mereka yang sulit berkembang melainkan mereka yang hanya ingin mendapatkan kehidupan yang layak namun kita membatasinya seakan-akan mereka tidak pantas untuk mendapatkannya.

Sekali lagi, marjinal bukan pilihan. Siapa yang mau jadi marjinal? apakah saya? anda? atau kita semua? tidak, kita semua tidak mau menjadi marjinal tapi apakah mereka juga mau jadi marjinal? jawabannya juga tidak. Marjinal bukan sebuah kasta yang menggolongkan manusia sesuai derajatnya tetapi marjinal hampir sudah menjadi kasta yang membatasi mereka dengan mereka yang sudah mendapatkan kehidupan layak dan sejahtera.

Kita kadang acuh terhadap mereka, tidak peduli dengan kehidupan mereka, bahkan kita sering mendiskriminasikan mereka dengan sikap kita yang tidak mau tau dengan keadaan mereka. Apakah kita pernah berpikir untuk mengeluarkan mereka dari kemarjinalan? agar di dunia ini terutama di negeri kita sendiri tidak ada lagi kaum marjinal, bukankah kita semua sama? bukankah kita sakit jika salah satu angota tubuh kita ada yang sakit? tapi kenapa ketika ada kelompok marjinal di sekitar kita, kita hanya diam saja? ada dan tiadanya mereka, kita tak peduli? termasuk saya dan mungkin anda.

Keadaan terkadang membuat mereka harus menjadi marjinal agar tetap hidup meskipun akses kehidupannya tidak layak, terkadang juga keadaan membuat mata hati kita tertutup untuk membantu mereka keluar dari kemarjinalan, malah terkadang kita sendiri yang menjerumuskan mereka pada kemarjinalan. Entah kerena sifat kita yang serakah, mau enak sendiri, sombong dan tak peduli.

Marjinal ada karena kita ada, kenapa? karena tanggung jawab kita untuk membantu mereka sangat dibutuhkan. Jika tanggung jawab kita tidak ada mungkin mereka akan tetap ada, jika tanggung jawab kita ada mungkin mereka sedikit demi sedikit akan keluar dari kemarjinalan dan tidak ada lagi kaum marjinal. Marjinal bukan siklus kehidupan yang membatasi si miskin dan si kaya melainkan marjinal sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar