Jumat, 23 Maret 2012

Antara Titik Didih dan Titik Jenuh

Ketika posisi berada di titik didih, apapun bisa dicapai bahkan pada hal yang sebelumnya tidak terpikirkan sekalipun. Titik didih ada ketika semangat kita semakin mendidih, membara bahkan bisa melukai diri sendiri jika kita tidak bisa mengendalikannya. Meskipun hanya sebatas malu, gara-gara titik didih tersebut yang tidak bisa dikontrol, namun dampaknya bisa meluas bahkan bisa membuat hari-hari selalu berada di posisi titik jenuh. Mungkin titik didih dan titik jenuh selalu berhubungan, karena kedua posisi tersebut merupakan sebab-akibat dari kekurang kontrolan *awas kepleset* dalam melakukan sesuatu tanpa pikir panjang terlebih dulu.

Posisi ini (titik didih.red) sangat dibutuhkan ketika tugas atau pekerjaan sedang menggerogoti waktu luang kita, yah karena sebanyak apapun pekerjaan itu, senumpuk apapun tugas yang belum diselesaikan, kalau kita ada di posisi ini (bersyukurlah) pasti akan terselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa ada rasa lelah sedikit pun bahkan kita sendiri lupa sama usaha kita yang sudah nyelesain pekerjaan tersebut.

Di posisi ini juga, kadang kita lupa sama hal yang lebih penting, yang seharusnya lebih diutamakan ketimbang hal yang baru saja muncul yang tak kalah pentingnya juga. Dan ini membuat kita galau. Kalau kalian sudah belajar bagaimana memanajemen waktu (bersyukurlah) karena disaat posisi ini (galau.red) ilmu memanajemen waktu sangat dibutuhkan supaya tidak kelabakan.

Sekarang titik jenuh,

Titik jenuh yaitu posisi yang membuat kita bener-bener kehilangan titik didih, tidak ada lagi semangat pada diri kita, malas, bosan semua jadi satu. Pada posisi ini hal yang seharusnya atau biasanya kita kerjakan tiba-tiba meminta untuk meng-off-kan sejenak sampai titik didih kembali ada.

Diam atau bengong merupakan usaha yang bisa dilakukan pada posisi ini, entah diam karena malas atau mungkin diam karena tak ada lagi sinyal untuk menggerakan anggota tubuh. Kalau pun ada hanya sebagian. Titik jenuh bisa datang kapan saja bahkan sangat berbahaya bagi kita yang berada di posisi ini, karena kenapa? selain tugas atau pekerjaan kita yang tertunda, ternyata fisik kita pun bisa terganggu yang akhirnya jadi down.

Hal yang kita butuhkan saat berada di posisi ini, yaitu penyemangat hidup yang berasal dari hati kita sendiri. Kata hati yang bisa kita jadikan sebagai pegangan untuk keluar dari posisi ini, karena hati tau ini bukan hatinya, ini bukan kita yang selalu pasrah pada keadaan saat memasuki titik jenuh.

Setiap orang pasti mengalami kedua posisi di atas, sekarang bagaimana kita dalam memanfaatkan dan menangani kedua posisi tersebut. Sekali lagi, bersyukurlah karena di balik kedua posisi di atas antara titik didih dan titik jenuh menyimpan banyak sekali pelajaran dalam menghargai betapa pentingnya sebuah waktu, waktu yang membuat kita ada di titik didih dan waktu yang mengeluarkan kita dari titik jenuh.

Minggu, 04 Maret 2012

Marjinal Bukan Pilihan

Kelompok yang terpinggirkan atau yang dikenal dengan sebutan marjinal, secara tidak sadar kita sendirilah yang membuat mereka ada (marjinal). Marjinal ada karena kita sendiri yang me-marjinal-kannya tanpa sedikitpun rasa tanggung jawab untuk membantu mereka keluar dari garis marjinalisasi karena saya tau marjinal itu bukan suatu pilihan namun kedaan yang membuat mereka jadi marjinal.
"Orang miskin, terpinggirkan, dan mereka yang tidak dihitung, mereka ada karena kita menciptakan, terutama oleh suprastruktur, dan kemudian oleh saya, oleh Anda, oleh kita semua." Mother Teresa
Marjinal tak semerta-merta mereka yang terpinggirkan, mereka yang miskin, mereka yang broken home, mereka yang sulit berkembang melainkan mereka yang hanya ingin mendapatkan kehidupan yang layak namun kita membatasinya seakan-akan mereka tidak pantas untuk mendapatkannya.

Sekali lagi, marjinal bukan pilihan. Siapa yang mau jadi marjinal? apakah saya? anda? atau kita semua? tidak, kita semua tidak mau menjadi marjinal tapi apakah mereka juga mau jadi marjinal? jawabannya juga tidak. Marjinal bukan sebuah kasta yang menggolongkan manusia sesuai derajatnya tetapi marjinal hampir sudah menjadi kasta yang membatasi mereka dengan mereka yang sudah mendapatkan kehidupan layak dan sejahtera.

Kita kadang acuh terhadap mereka, tidak peduli dengan kehidupan mereka, bahkan kita sering mendiskriminasikan mereka dengan sikap kita yang tidak mau tau dengan keadaan mereka. Apakah kita pernah berpikir untuk mengeluarkan mereka dari kemarjinalan? agar di dunia ini terutama di negeri kita sendiri tidak ada lagi kaum marjinal, bukankah kita semua sama? bukankah kita sakit jika salah satu angota tubuh kita ada yang sakit? tapi kenapa ketika ada kelompok marjinal di sekitar kita, kita hanya diam saja? ada dan tiadanya mereka, kita tak peduli? termasuk saya dan mungkin anda.

Keadaan terkadang membuat mereka harus menjadi marjinal agar tetap hidup meskipun akses kehidupannya tidak layak, terkadang juga keadaan membuat mata hati kita tertutup untuk membantu mereka keluar dari kemarjinalan, malah terkadang kita sendiri yang menjerumuskan mereka pada kemarjinalan. Entah kerena sifat kita yang serakah, mau enak sendiri, sombong dan tak peduli.

Marjinal ada karena kita ada, kenapa? karena tanggung jawab kita untuk membantu mereka sangat dibutuhkan. Jika tanggung jawab kita tidak ada mungkin mereka akan tetap ada, jika tanggung jawab kita ada mungkin mereka sedikit demi sedikit akan keluar dari kemarjinalan dan tidak ada lagi kaum marjinal. Marjinal bukan siklus kehidupan yang membatasi si miskin dan si kaya melainkan marjinal sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama.