Kamis, 22 Desember 2011

Maafkan Aku Ibu

Ketika ada seorang teman bertanya, "Pernah gak bilang ‘AKU SAYANG IBU’ langsung ke Ibu kalian?" jujur, untuk saat ini aku belum bisa bilang AKU SAYANG IBU langsung ke Ibuku, tiga kata yang sepertinya gampang untuk diucapkan tapi bagiku sulit untuk mengucapkannya apalagi langsung. Entah karena alasan nunggu waktu yang tepatlah, malulah, buat apalah, arghh!! sungguh bodoh sekali diriku. Sedangkan Ibuku mudah sekali mengungkapkannya "Ibu sayang kamu, nak!" meskipun tidak lewat kata-kata, tapi terlihat dari raut wajahnya, seakan-akan memancarkan sinar kasih sayang yang tak terhingga.

Aku jadi inget sebuah lagu waktu aku kecil yang liriknya kaya gini :
Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.
Memang benar kasih ibu itu tak terhingga, mau diukur oleh alat pengukur yang paling teliti sekalipun tidak akan bisa mengukur kasih sayangnya. Seluas-luasnya samudera, sedalam-dalamnya lautan dan setinggi-tingginya daratan tapi tak ada yang lebih luas, tak ada yang lebih dalam dan tak ada yang lebih tinggi dari kasih sayang seorang IBU kepada anaknya, seperti lilin yang rela meleleh demi menerangi kegelapan.

Maafkan aku Ibu, di waktuku yang sudah menginjak masa remaja ini, tapi aku belum bisa mengucapkan ketiga kata itu, kata yang sangat sakral bagiku tapi ada pesan yang begitu dalam, bahkan lebih dalam dari sekedar kata-kata mutiara sekalipun. Terlalu munafikkah aku ini? terlalu sombongkah diri ini? aku bahkan tidak tau cara mengungkapkannya.

Ibu, tulisan ini aku dedikasikan untukmu, atas kasih sayangmu, atas doa-doa yang selalu kau panjatkan untukku, atas jasamu yang tak akan terbalas, dan atas belaian tanganmu yang telah membuatku lebih semangat, lebih berani dan lebih leluasa untuk menapaki jalan hidup yang penuh dengan cobaan ini.
Ibu,
Putihnya karang tak seputih cintamu
Hangatnya mentari tak sehangat kasih sayangmu
Lembutnya sutra tak selembut belaianmu

Ibu,
Setiap nafas yang terbuang
Setiap waktu yang tersisa
Dan, setiap doa yang ku panjatkan
Aku hanya ingin melihatmu bahagia
Tersenyum lepas seperti burung yang baru bisa terbang
Berdiri kokoh seperti gunung mahameru di tanah jawa

Ibu,
Jika aku akan meninggalkan dunia
Aku ingin engkau orang pertama yang ada disampingku
Seperti waktu engkau melahirkan aku ke dunia

(Karya : Lukman Maulana)

Sekali lagi, maafkan aku Ibu, saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, belum bisa manjadi seorang anak yang berbakti kepadamu dan yang paling memalukan, aku belum bisa bilang "AKU SAYANG IBU". Tapi satu hal yang ingin aku bilang lewat tulisan ini "AKU SAYANG IBU" selamanya.

~Selamat Hari IBU~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar