Minggu, 30 Oktober 2011

Ada 'misi' Apa Di Balik Ini Semua?

"PEMILU 2014 dipajuin yah?"
"Kata siapa?"
 
"Itu buktinya pamflet-pamflet bahkan spanduk-spanduk sudah mulai menghiasi setiap dinding di kampus kita" 

"Lu ngga tau? kita kan mau PEMIRA"

"PEMIRA? Pemilihan Raya? yang katanya pesta demokrasi di tingkat kampus yang menjadi miniatur pesta demokrasi bangsa itu?"

"Iah"

"Hah? itu kan cuma pemilihan biasa, yang nyaloninnya juga sama seperti kita, mahasiswa. Lantas dana darimana mereka? berani bikin pamflet yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan atau mungkin sebanyak mahasiswa yang ada di kampus ini? bikin pamflet itu ngga murah loh!"


"@#%$#^#HENING#$@##%^"


Mungkin ini yang menjadi pertanyaan besar bagi mahasiswa untuk calon yang katanya bakalan memimpin kita setahun kedepan, penyambung lidah mahasiswa kepada rektor, penggerak dalam sebuah aksi, baik horizontal maupun vertikal, penenang ketika di lingkungan kampus terjadi bentrok antara mahasiswa dengan dosen, atau apalah definisinya itu gw ngga tau, yang jelas disini, yang jadi pertanyaan gw, darimana kah dana yang memfasilitasi mereka untuk berkampanye? yang notaben si calonnya itu mahasiswa yang belum berpenghasilan.

Hari kamis kemarin, tepatnya hari terakhir UTS untuk angkatan 48, kebetulan kelas gw kebagian ruang UTS di TPB yang sebelumnya selalu kebagian di FPIK-FAPET-FPIK-FAPET (sekali-kali di astri ke, hehe), maklumlah kelas terakhir di kelompok P, di situ gw liat, dipojokan yang mau ke kortan sama ke FMIPA menggantung sebuah spanduk berukuran besar yang kalau di asumsikan sebuah kain bisa dibikin baju 3-4 stel atau lebih.

Jujur gw ketipu sama isi spanduk itu, gw ngiranya itu merupakan program dari IPB, eh ternyata, pas gw buka alamat websitnya, itu adalah bentuk kampanye dari mereka. Memang sih menarik, menarik banget sampe-sampe gw ketarik alias ketipu, yang bikin menarik dari spanduk itu yaitu isinya, disitu sama sekali ngga ada embel-embel si calon dan wakil calonnya, cuma tulisan biasa yang ternyata maksud tulisan disitu merupakan akronim dari nama si calon dan wakil calonnya, dan yang lebih memprihatinkan lagi, spanduk itu dipasang di atas ibu-ibu, bapak-bapak bahkan anak kecil yang lagi berjualan disitu. Mereka itu ngga mikir apa?, coba deh kalian bayangin, yang berjualan tadi, mereka itu susah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara berjualan, tapi apa yang dilakukan calon pemimpin kita? sebaliknya, mereka malah menghambur-hamburkan uang dengan cara membuat pamflet atau spanduk untuk memenuhi kebutuhan mereka yang dananya itu patut dipertanyakan. Mereka berarti tidak jauh beda dengan petinggi-petinggi di negeri ini, ketika rakyat kecil menjerit-jerit tentang kemiskinan, kekurangan pangan, kenaikan harga ini itu, pendidikan tapi mereka malah berfoya-foya, berleha-leha dan ber hip-hip hura tanpa memikirkan keadaan di sekeliling mereka (rakyat.red). Calon pemimpin seperti inikah yang mau kita pilih? atau jalur golputkah yang tepat untuk menyuarakan suara kita dalam PEMIRA nanti?

Gw balik ke asrama, ternyata sama, pamflet yang ukurannya sama dengan poster-poster di kamar gw turut menutupi semua informasi penting yang ada di mading lorong dengan sesuatu yang ngga penting, dalam benak gw timbul pertanyaan-pertanyaan baru, apakah dari angkatan 48 ada yang menjadi salah satu dari tim sukses mereka? atau dari pihak SR kah yang membantu mengkampanyekan mereka di lingkungan asrama? Entahlah.

Kembali ke topik permasalahan,
Sebenarnya, misi mereka yang sebenarnya itu apa sih? apa ada misi tersendiri sehingga mereka berani merogoh kocek yang sangat besar hanya untuk memenangkan dalam PEMIRA ini? mereka berani mengeluarkan uang pasti mereka juga 'nantinya' mengaharapkan uangnya itu kembali, sesuai dengan fitrah manusia yang berprinsip pada untung dan rugi, apakah ini yang disebut dengan pengabdian? ketulusan dalam menjalankan amanah? ataukah mungkin ada golongan-golongan terselubung yang mendanai mereka? lantas apa keuntungan yang diterima golongan tersebut? sungguh, ini merupakan teka-teki politik yang berkembang di kampus ini yang sulit dipecahkan. Coba deh kalau misalkan dana yang mereka gunain secara cuma-cuma itu dipake buat hal-hal ngga penting dengan menempel pamflet atau spanduk yang peluang untuk menangnya itu ngga seberapa, akan lebih bermanfaat jika dana ke-3 calon itu digabungkan lalu disumbangkan kepada pengemis-pengemis, pengamen-pengamen, pemulung-pemulung yang ada di sekitar kampus atau kepada masyarakat yang membutuhkan, akan lebih bermanfaat bukan? inilah yang disebut PENGABDIAN MAHASISWA SESUNGGUHNYA, kita ini kuliah di kampus rakyat, sudah sepantasnyalah kita memikirkan keadaan yang terjadi pada masyarakat, bukan memikirkan kepentingan dari pihak-pihak tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar